Demi ANBK, Anak Berjalan Kaki Sepanjang 21 KM dengan Penuh Resiko

0
70

kandaga.id – Sebelum dilaksanakan Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK), pemerintah dalam hal ini dinas pendidikan seharusnya melakukan survei terlebih dahulu ke daerah terpencil yang serba kesulitan, terutama jaringan internet atau sarana dan prasarana pendukung lainnya.

Demikian dikatakan, Kepala SDN 1 Ciroyom, Kecamatan Cikelet, Usup saat dihubungi melalui WhatsApp. Pasalnya kata Usup, geografis di Kabupaten Garut, khusus di wilayah selatan tidak sama kondisinya dengan di perkotaan, Jum’at (5/11/2021).

Ko

Jangankan jaringan internet, sarana prasarana pendukung lainnya pun SDN 1 Ciroyom tidak memilikinya. Untuk itu, ungkap Usup, pihkanya terpaksa menumpang ke SMP yang paling dekat dan sudah tersedia segala sarana prasarananya yaitu SMPN 2 Cikelet.

Usup menjelaskan, sekolah yang dipimpinnya berbatasan langsung dengan Kecamatan Pakenjeng yang keberadaannya sangat memprihatinkan. Bahkan kata Usup, untuk mengikuti gladi ANBK ini, para peserta didiknya harus menempuh jarak lebih kurang 21 kilometer dan berjuang dengan medan jalan yang kurang bersahabat.

“Karena jarak tempuh mencapai 21 kilometer, kalau harus pulang pergi yang penuh dengan segala resiko, terpaksa selama pelaksanaan gladi ANBK ini, anak-anak menginap di lokasi atau rumah warga yang dekat dengan SMN 2 Cikelet,” ujar Usup.

Selain itu, Usup pun menceritakan, salah seorang guru di SDN 1 Ciroyom, Deden Taofik, dengan rela mengambil jalan pintas menggunakan sepeda motor menyebrangi sungai Cimangke di bantu warga yang sengaja mengajaknya dari Kampung Ciroyom.

“Debit Sungai Cimangke ini cukup deras, sewaktu-waktu sering besar secara tiba-tiba, apalagi seperti sekarang sudah mulai musim hujan,” pungkas Usup.
(Iwan Setiawan)***