Fasilitator Guru Penggerak, Ita habibie Memaparkan Profil Pelajar Pancasila pada IHT SMPN 1 Garut

0
142

Kandaga.id – Melalui tema “Bicarakan Apa Yang Bisa Dilakukan, Lakukan Apa Yang di Prioritaskan”, fasilitator Guru Penggerak SMPN 1 Garut, Ita habibie, S.Pd.I, dalam karya minimalis hasil maksimalis memaparkan Profil Pelajar Pancasila pada In House Training (IHT) SMPN 1 Garut yang dilaksanakan mulai tanggal 5-13 Juli 2021 yang diikuti semua pendidik melalui joint zoom meeting sesuai protokol kesehatan Covid-19.

Diawali lima pertanyaan yang diajukan yaitu : Apa yang anda ketahui tentang Profil Pelajar Pancasila?, Dimensi apa saja yang termasuk  profil pelajar pancasila?, Dimensi apa saja yang termasuk  profil pelajar pancasila?, Coba jelaskan apa kaitan profil pelajar pancasila dengan visi sekolah?, dan Seperti apa hubungan profil pelajar pancasila dengan peran anada sebagi guru?.

Selain itu, yang jadi pertanyaan besarnya yaitu: Apa karakter dan kompetensi pelajar yang ingin dihasilkan sistem pendidikan Indonesia?

Menurut Ita habibie, Profil Pelajar Pancasila, merupakan perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Dan merupakan upaya menerjemahkan visi dan tujuan pendidikan yang telah dirumuskan dalam Undang-Undang dan dicita-citakan para pemimpin bangsa ke dalam lembaga pendidikan serta visi misi Presiden.

“Visi dan tujuan Pendidikan dalam UUD tahun 1945 alinea ke-4 dan Sisdiknas pasal 3. Fungsinya adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,” terang Ita habibie, melalui WhatsApp, Kamis (8/7/2021).

Lanjut Ita, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Mengapa Harus Profil Pelajar Pancasila?

Penamaan Profil Pelajar Pancasila bertujuan untuk menguatkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam diri setiap individu pelajar. Pancasila adalah satu kata yang paling sesuai untuk merangkum seluruh karakter dan kompetensi yang diharapkan untuk dimiliki setiap pelajar Indonesia.

Sebagai acuan, Profil Pelajar Pancasila dimaksudkan untuk penguatan karakter bangsa, menyiapkan generasi masa depan yang unggul dan mampu menjawab tantangan masa kini dan masa yang akan datang.

Selain itu Profil Pelajar Pancasila adalah penentu arah perubahan dan petunjuk bagi segenap pamangku kepentingan dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan.

Profil Pelajar Pancasila kemudian dirumuskan menjadi: “Pelajar Indonesia merupakan pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila.” Pernyataan ini memuat tiga kata kunci: pelajar sepanjang hayat, kompetensi global, dan pengamalan nilai-nilai Pancasila.

Adapun definisi Profil Pelajar Pancasila adalah profil lulusan yang bertujuan menunjukkan karakter dan kompetensi yang diharapkan diraih dan menguatkan nilai-nilai luhur Pancasila peserta didik dan para pemangku kepentingan.

Dalam paparannya, Ita habibie mengatakan ada 6 dimensi dengan penjabaran elemen di masing-masing dimensinya, dengan pertanyaan. Apa saja dimensi Profil Pelajar Pancasila? Yaitu Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia; Berkebinekaan Global; Mandiri; Bergotong-Royong; Bernalar Kritis; dan Kreatif.

Beriman, Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia yaitu pelajar Indonesia yang menghayati keberadaan Tuhan dan selalu berupaya mentaati perintah serta menjauhi larangan sesuai dengan dianutnya.

“Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa diwujudkan ke dalam akhlak yang mulia, baik kepada diri sendiri, kepada sesama manusia, kepada alam dan kepada negara Indonesia,” ujar Ita.

Berkebinekaan Global, pelajar Indonesia yang Berkebinekaan Global memiliki identitas diri yang matang, mampu menunjukkan dirinya sebagai representasi budaya luhur bangsanya, sekaligus memiliki wawasan serta keterbukaan tentang eksistensi ragam budaya daerah, nasional dan global.

“Pelajar Indonesia memiliki sikap menghormati keberagaman dan toleransi terhadap perbedaan,” jelasnya.

Lanjutnya, untuk mencapakai Berkebinekaan Global, pelajar Indonesia harus dapat mengenal dan menghargai budaya, dapat berkomunikasi dan berinteraksi antar budaya, berrefleksi dan bertanggungjawab terhadap pengalaman kebhinekaan serta berkeadilan sosial.

Mandiri, pelajar Indonesia memiliki prakarsa atas pengembangan dirinya yang tercermin dalam kemampuan untuk bertanggungjawab, memiliki rencana strategis, melakukan tindakan dan merefleksikan proses dan hasil pengalamannya.

“Untuk itu, pelajar Indonesia perlu memiliki kesadaran akan diri dan situasi yang dihadapi serta memiliki regulasi diri,” ujarnya.

Bergotong-royong, pelajar Indonesia memiliki kemampuan untuk melakukan kolaborasi dengan sukarela agar kegiatan yang dikerjakan dapat berjalan lancar dan mencapai tujuan untuk kebaikan bersama.

“Pelajar Indonesia selalu berusaha melihat kekuatan-kekuatan yang dimiliki setiap orang di sekitarnya, yang dapat memberi manfaat bersama. Mencegah terjadinya konflik dan tidak memaksakan kehendak para orang lain,” ucapnya.

Lanjutnya, hal-hal yang harus dilakukan pelajar Indonesia untuk mewujudkan gotong-royong adalah melakukan kolaborasi, memiliki kepedulian yang tinggi, dan berbagi dengan sesama.

Bernalar Kritis, pelajar Indonesia yang bernalar kritis berpikir secara objektif, sistematik dan saintifik dengan mempertimbangkan berbagai aspek berdasarkan data dan fakta yang mendukung, sehingga dapat membuat keputusa yang tepat dan berkontribusi memecahkan masalah dalam kehidupan, serta terbuka dengan penemuan baru.

“Untuk bernalar kritis, pelajar Indonesia perlu memperoleh dan memproses informasi serta gagasan dengan baik, lalu menganalisa dan mengevaluasinya, kemudian merefleksikan pemikiran dan proses berpikirnya,” ungkapnya.

Kreatif, pelajar Indonesia mampu memodifikasi dan menghasilkan sesuatu yang orisinal, bermakna, bermanfaat, dan berdampak, dalam bentuk gagasan, tindakan, dan karya nyata secara proaktif dan independen untuk menemukan cara-cara lain dan berbeda untuk bisa berinovasi.

“Pelajar Indonesia yang kreatif adalah pelajar yang bisa menghasilkan gagasan, karya dan tindakan yang orisinil, memiliki keluwesan berpikir dalam mencari alternatif solusi permasalahan,” ujarnya.

Adapun kegunaan Profil Pelajar Pancasila tambah Ita habibie, merupakan upaya menerjemahkan tujuan dan visi pendidikan ke daam format yang lebih mudah dipahami oleh seluruh pemangku kepentingan pendidikan.

“Rumusan Profil Pelajar Pancasila dibuat dengan tujuan sebagai kompas bagi pendidik dan pelajar Indonesia. Segala pembelajaran, program dan kegiatan di satuan pendidikan bertujuan akhir ke Profil Pelajar Pancasila,” pungkasnya. ***Jajang Sukmana