Dadang Muhammad Kosim Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan Kabupaten Garut

Artikel ini akan mengulas beberapa permasalahan utama dalam implementasi Kurikulum Merdeka di tataran lapangan.

Terdapat beberapa tantangan dan permasalahan yang masih menghadang terhadap efektifitas pelaksanaan Implementasi Kurikulum Merdeka, di antaranya: 

  1. Kesiapan Guru dan Tenaga Kependidikan
  2. Infrastruktur dan Sumber Daya
  3. Kurangnya Koordinasi dan Sinergi
  4. Penilaian dan Evaluasi
  5. Keterlibatan Orang Tua dan Masyarakat
  6. Beban Administratif

 

KETERLIBATAN ORANG TUA DAN MASYARAKAT DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA

Keterlibatan orang tua dan masyarakat merupakan komponen penting dalam kesuksesan implementasi Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini dirancang untuk mengembangkan potensi siswa secara holistik, yang membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk keluarga dan lingkungan sekitar. Namun, tantangan masih ada dalam memastikan partisipasi aktif dari orang tua dan masyarakat. 

Berikut adalah beberapa masalah utama serta solusi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan keterlibatan mereka.

1. Kurangnya Pemahaman tentang Kurikulum Merdeka

Masalah: Banyak orang tua yang belum memahami esensi dan tujuan Kurikulum Merdeka. Mereka mungkin merasa bingung dengan perubahan yang terjadi dalam sistem pendidikan dan tidak mengerti bagaimana mereka bisa berkontribusi.

Solusi: Melakukan sosialisasi yang efektif mengenai Kurikulum Merdeka kepada orang tua dan masyarakat. Sekolah dapat menyelenggarakan seminar, lokakarya, dan pertemuan rutin untuk menjelaskan konsep kurikulum ini. Penggunaan media sosial dan materi edukasi yang mudah dipahami juga dapat membantu memperluas pemahaman masyarakat.

2. Rendahnya Partisipasi dalam Kegiatan Sekolah

Masalah: Partisipasi orang tua dan masyarakat dalam kegiatan sekolah sering kali masih rendah. Mereka mungkin merasa bahwa tanggung jawab pendidikan sepenuhnya berada di tangan sekolah dan guru.

Solusi: Meningkatkan partisipasi dengan mengundang orang tua untuk terlibat dalam berbagai kegiatan sekolah seperti pertemuan komite sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, dan program pembelajaran berbasis proyek. Sekolah bisa membuat jadwal kegiatan yang fleksibel agar orang tua yang bekerja tetap bisa berpartisipasi.

3. Minimnya Komunikasi Antara Sekolah dan Orang Tua

Masalah: Komunikasi yang kurang efektif antara sekolah dan orang tua dapat menyebabkan kurangnya informasi dan partisipasi. Hal ini bisa disebabkan oleh keterbatasan waktu atau tidak adanya saluran komunikasi yang tepat.

Solusi: Membangun saluran komunikasi yang efektif dan dua arah antara sekolah dan orang tua. Ini bisa berupa aplikasi komunikasi sekolah, grup WhatsApp, newsletter, atau pertemuan rutin. Komunikasi yang baik akan membantu orang tua tetap terinformasi dan merasa lebih terlibat dalam pendidikan anak mereka.

4. Kurangnya Kesadaran akan Pentingnya Keterlibatan

Masalah: Sebagian orang tua dan masyarakat belum menyadari betapa pentingnya peran mereka dalam mendukung pendidikan anak. Mereka mungkin melihat pendidikan sebagai tanggung jawab guru semata.

Solusi: Menyelenggarakan program edukasi dan kampanye kesadaran untuk menekankan pentingnya peran orang tua dan masyarakat dalam pendidikan. Menggunakan kisah sukses dan contoh konkret dari sekolah yang telah berhasil melibatkan orang tua dapat menjadi inspirasi.

5. Dukungan Lingkungan untuk Belajar

Masalah: Lingkungan rumah dan masyarakat yang tidak mendukung bisa menjadi hambatan bagi proses belajar siswa. Kondisi ini mencakup kurangnya fasilitas belajar di rumah atau adanya gangguan dari lingkungan sekitar.

Solusi: Sekolah dapat bekerja sama dengan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang mendukung belajar. Program seperti “rumah belajar” atau komunitas belajar di lingkungan setempat bisa menjadi solusi. Selain itu, penyediaan fasilitas belajar yang memadai di sekolah dapat membantu mengatasi keterbatasan di rumah.

Langkah-Langkah Strategis untuk Meningkatkan Keterlibatan Orang Tua dan Masyarakat

  1. Sosialisasi dan Edukasi: Sekolah perlu melakukan sosialisasi intensif mengenai Kurikulum Merdeka kepada orang tua dan masyarakat. Menggunakan berbagai media dan metode komunikasi untuk mencapai audiens yang lebih luas.
  2. Penyelenggaraan Kegiatan Kolaboratif: Mengundang orang tua untuk berpartisipasi dalam kegiatan sekolah seperti kelas terbuka, lokakarya, dan proyek-proyek komunitas yang melibatkan siswa.
  3. Penggunaan Teknologi untuk Komunikasi: Menggunakan aplikasi komunikasi dan platform digital untuk membangun komunikasi yang efektif dan berkelanjutan antara sekolah dan orang tua.
  4. Kampanye Kesadaran: Mengadakan kampanye kesadaran mengenai pentingnya keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pendidikan, menggunakan media sosial, video pendek, dan materi cetak.
  5. Program Pendukung di Komunitas: Mendorong terbentuknya program belajar berbasis komunitas, seperti rumah belajar atau kelompok belajar di lingkungan sekitar, untuk memberikan dukungan tambahan bagi siswa.
  6. Pemberian Penghargaan dan Pengakuan: Memberikan penghargaan dan pengakuan kepada orang tua dan masyarakat yang aktif terlibat dalam kegiatan sekolah untuk meningkatkan motivasi dan partisipasi.

Dengan langkah-langkah ini, diharapkan keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam implementasi Kurikulum Merdeka dapat meningkat, sehingga mendukung terciptanya lingkungan belajar yang lebih baik dan holistik bagi siswa. Keterlibatan yang aktif dan kolaboratif dari semua pihak akan membantu mewujudkan tujuan Kurikulum Merdeka untuk memberikan pendidikan yang lebih relevan, bermakna, dan sesuai dengan kebutuhan siswa.

BEBAN ADMINISTRATIF DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA

Implementasi Kurikulum Merdeka bertujuan untuk memberikan pendidikan yang lebih bermakna dan relevan bagi siswa. Namun, salah satu hambatan utama dalam mewujudkan tujuan ini adalah beban administratif yang masih dirasakan oleh para guru dan tenaga kependidikan. Beban administratif yang berlebihan dapat mengalihkan fokus guru dari proses pembelajaran yang seharusnya menjadi prioritas utama. 

Berikut adalah beberapa masalah terkait beban administratif serta solusi yang dapat diterapkan.

  1. Banyaknya Tugas Administratif

Masalah: Guru sering kali dibebani dengan berbagai tugas administratif seperti pengisian laporan, pencatatan kehadiran, penilaian administrasi, dan lain-lain. Hal ini mengurangi waktu yang mereka miliki untuk merencanakan dan melaksanakan pembelajaran yang efektif.

Solusi: Penggunaan teknologi untuk otomatisasi tugas-tugas administratif dapat membantu mengurangi beban ini. Sistem manajemen sekolah yang terintegrasi dapat digunakan untuk mengelola pencatatan kehadiran, penilaian, dan laporan secara digital, sehingga mengurangi waktu yang dihabiskan untuk tugas-tugas ini.

  1. Kurangnya Dukungan Administratif

Masalah: Di banyak sekolah, terutama di daerah terpencil, dukungan administratif masih minim. Guru harus menangani berbagai pekerjaan administratif sendiri tanpa bantuan staf pendukung yang memadai.

Solusi: Pemerintah dan dinas pendidikan perlu meningkatkan alokasi sumber daya untuk menyediakan staf pendukung administratif di sekolah. Selain itu, pelatihan bagi staf pendukung ini juga penting agar mereka dapat membantu mengurangi beban administratif guru secara efektif.

  1. Kompleksitas Prosedur dan Birokrasi

Masalah: Prosedur administratif yang kompleks dan birokrasi yang berbelit-belit sering kali memperlambat proses dan menambah beban kerja guru. Ini termasuk pengisian berbagai formulir, pelaporan yang berulang-ulang, dan kepatuhan terhadap regulasi yang rumit.

Solusi: Pemerintah perlu melakukan penyederhanaan prosedur administratif dan mengurangi birokrasi yang tidak perlu. Mengadopsi pendekatan yang lebih efisien dan fleksibel dalam pengelolaan administrasi sekolah dapat membantu mengurangi beban kerja guru.

  1. Kurangnya Pelatihan dalam Manajemen Waktu

Masalah: Banyak guru yang belum memiliki keterampilan manajemen waktu yang memadai untuk menangani tugas-tugas administratif dan pengajaran secara bersamaan. Hal ini dapat menyebabkan stres dan penurunan kualitas pengajaran.

Solusi: Mengadakan pelatihan manajemen waktu dan keterampilan organisasi bagi guru untuk membantu mereka mengatur tugas-tugas administratif dan pengajaran dengan lebih efisien. Pelatihan ini dapat memberikan teknik dan strategi praktis untuk meningkatkan produktivitas dan mengurangi stres.

  1. Sistem Penilaian yang Kompleks

Masalah: Penilaian yang kompleks dan berbasis kompetensi dalam Kurikulum Merdeka membutuhkan pencatatan yang lebih detail dan berkelanjutan. Hal ini dapat meningkatkan beban administratif bagi guru yang harus terus memantau dan melaporkan perkembangan siswa.

Solusi: Mengembangkan sistem penilaian yang lebih sederhana dan user-friendly yang dapat digunakan oleh guru untuk mencatat dan melaporkan penilaian secara efisien. Sistem digital yang terintegrasi dengan platform pembelajaran dapat membantu dalam pengelolaan data penilaian.

Langkah-Langkah Strategis untuk Mengurangi Beban Administratif

  1. Automatisasi Tugas Administratif: Mengadopsi teknologi dan sistem manajemen sekolah yang terintegrasi untuk otomatisasi tugas-tugas administratif seperti pencatatan kehadiran, penilaian, dan pelaporan.
  2. Penyediaan Staf Pendukung: Menambah jumlah staf pendukung administratif di sekolah-sekolah, terutama di daerah yang kekurangan tenaga, serta memberikan pelatihan yang memadai bagi mereka.
  3. Penyederhanaan Prosedur Birokrasi: Melakukan reformasi birokrasi untuk menyederhanakan prosedur administratif dan mengurangi regulasi yang tidak perlu, sehingga proses administrasi menjadi lebih efisien.
  4. Pelatihan Manajemen Waktu: Mengadakan pelatihan manajemen waktu dan keterampilan organisasi bagi guru untuk membantu mereka mengelola tugas administratif dan pengajaran dengan lebih baik.
  5. Pengembangan Sistem Penilaian Digital: Mengembangkan dan mengimplementasikan sistem penilaian digital yang sederhana dan efisien, yang dapat membantu guru dalam pencatatan dan pelaporan penilaian.
  6. Evaluasi dan Umpan Balik: Secara berkala melakukan evaluasi terhadap beban administratif yang dihadapi guru dan memberikan umpan balik untuk terus memperbaiki sistem administrasi yang ada.

Dengan langkah-langkah ini, diharapkan beban administratif yang dihadapi oleh guru dapat dikurangi, sehingga mereka dapat lebih fokus pada pengajaran dan pembelajaran yang berkualitas sesuai dengan tujuan Kurikulum Merdeka. Hal ini akan membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif dan efektif bagi siswa. (“)