Kesiapan Anak Bersekolah, Tanggung Jawab Keluarga dan Satuan Pendidikan

0
177
Nunung Herlina, S.Pd.,M.Pd.

kandaga.id – Dinas Pendidikan Kabupaten Garut bersama Ditjen Paud, Dikdas dan Dikmen Kemendikbud RI telah selesai melakukan Bimbingan Teknis (Bintek) Program Kesiapan Bersekolah Satuan PAUD dan Implementasi Standar Pelayanan Minimal (SPM) PAUD Satu Tahun Pra SD di Vila Rancabango, Kecamatan Tarogong Kaler, Rabu-Kamis (15-16/2021).

Ada beberapa materi dalam Bintek tersebut yang disampaikan kepada 30 perwakilan se-Kabupaten Garut ini diantaranya, Kebijakan Daerah, Implementasi Program Kesiapan Bersekolah, Penyelenggaraan Forum Komunikasi PAUD-SD, Panduan Toolkit serta Toolkit Kesiapan Keluarga, Anak dan Sekolah, juga Toolkit Transisi PAUD-SD dengan diakhiri Pre Post Test.

Toolkit kesiapan anak bersekolah, salah satunya yang disampaikan Pengawas TK, Nunung Herlina, S.Pd.,M.Pd., bahwa toolkit ini sangat mendasar yang memerlukan kolaborasi tanggung jawab antara keluarga dan satuan PAUD untuk mengantarkan anak ke jenjang selanjutnya, Kamis (16/09/2021).

Untuk itu, diperlukan sebuah program secara terencana, agar anak dimasa transisi ini termotivasi, tertarik untuk bersekolah. Sedangkan kesiapan sekolah akan berupaya dengan melibatkan semua yang ada di satuan PAUD tersebut, dengan semaksimal mungkin dalam mengantarkannya anak ke jenjang sekolah dasar.

Selain itu, diperlukan beberapa konsep dalam mengembangkan, mendorong dan membantu anak supaya siap bersekolah ke jenjang selanjutnya. Namun ingat, ada hal yang perlu diperhatikan juga dalam menggunakan Toolkit ini yaitu, terima anak apa adanya, anak mendapatkan pelayanan yang maksimal, anak memiliki kesempatan untuk merasakan keberhasilan-keberhasilan kecil, anak didorong untuk mengembangkan kelebihan-kelebihannya, anak diajak untuk menerima kekurangan-kekurangannya, dan berikan perhatian apabila anak memiliki perbedaan.

Untuk itu, bagaimana upaya kita, agar anak bersemangat dan timbul rasa ingin tahu untuk mendapatkan pengalaman belajar baru, dengan konsep-konsep yang matang, baik oleh keluarga maupun satuan PAUD.

Diketahui sebelumnya, narasumber Iis Faridah, S.Si., M.Pd., dalam Panduan dan Toolkit Kesiapan Keluarga dalam Mendukung Program Kesiapan Bersekolah, menjelaskan bahwa keluarga merupakan paling esensial dalam mendukung perkembangan anak secara maksimal. Karena keluarga yang memberikan stimulasi dalam membantu untuk beradaptasi dalam membentuk sikap dan pengetahuannya, Rabu (15/09/2021).

Iis mencontohkan, sikap orang tua dalam tampilan melalui perilaku, ekspresi, dan pemahaman orang tua terhadap anak. Kemudian sikap yang positif dari orang tua ditunjukkan melalui kehangatan atau kasih sayang, kepekaan orang tua terhadap kebutuhan anak, cara komunikasi orang tua terhadap anak dan cara orang tua merespons perilaku anak.

Orang tua dapat menunjukkan dukungannya melalui kegiatan sehari-hari, dukungan yang diberikan dimaksudkan agar anak berkembang secara utuh pada aspek-aspek perkembangannya.

Stimulasi dalam hal ini adalah kesediaan orang tua untuk menumbuhkan kecintaan terhadap belajar melalui kegiatan sehari-hari di rumah. Yaitu, kegiatan yang dilakukan selaras dengan sekolah, orang tua memberikan kesempatan anak untuk mengeksplorasi dan beraktivitas agar dapat mengembangkan seluruh aspek perkembangannya. 

Yang perlu diperhatikan konsistensi antar anggota keluarga dalam bertindak adalah perhatian dan kasih sayang di keluarga, tegas dalam tindakan.

Konsistensi merupakan sikap dan perilaku orang tua dalam menjalankan apa yang dikatakan. Sikap dan perilaku konsisten akan memudahkan anak berperilaku, karena anak menjadi paham apa yang boleh dilakukan dan tidak.

Selain itu, konsistensi membuat anak memiliki pengendalian akan perilakunya. Keluarga ada karena cinta dan cinta perlu terus dipupuk dan dikembangkan dalam diri anak.

Kurangnya kasih sayang akan membuat anak merasa tertekan dan tidak aman, menuntut anak untuk selalu berprestasi membuat anak tertekan, cinta dan perhatian akan membangun kepercayaan diri anak dan harga diri anak.

Untuk anak usia dini, sentuhan fisik membuat anak merasa dicintai, diterima, dan dilindungi. Selalu bersikap baik dan positif terhadap anak sebagai bentuk penghargaan terhadap anak. 

“Ajak anak berbicara, berikan motivasi. Mengobrol dengan anak itu mengasikan, bereksplorasi bersama anak menyenangkan. Kenalkan bermain dengan aturan pada anak, dorong dan stimulasi keterampilan bantu diri anak,” pungkasnya. ***Jajang Sukmana