Masa Krisis SMPN 2 Garut Tetap Eksis

0
219

kandaga.id – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMPN 2 Garut dilakukan secara Daring. Slain peserta didik juga melibatkan para orang tua siswa kelas VII, tahun pelajaran 2020-2021, Kamis, 16 Juli 2020

Kepala SMPN 2 Garut, Dr. Budi Suhardiman, M.Pd., mengatakan, MPLS dilakukan selama dua hari, dengan tingkat partisipasi hari pertama 94%, dan 98% di hari kedua.

Ada 10 kegiatan MPLS di masa krisis Covid-19 yaitu Kesehatan siswa, guru, tenaga administrasi sekolah (TAS), dan warga sekolah lainnya menjadi prioritas; Mengubah mindset Normal pada situasi tidak normal; Tetap disiplin dalam bekerja; Tetap memberikan layanan pendidikan terbaik/bermutu kepada para siswa; Menggunakan berbagai perangkat teknologi; BDR sebuah pilihan terbaik; Pastikan bahwa siswa di rumah belajar dengan baik; Penguasaan TIK menjadi sesuatu yang penting; dan Perkuat kolaborasi virtual dengan teman yang lainnya.

“Kemungkinan pada masa Covid-19 dilakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang diperkirakan sampai akhir tahun 2020 , dan pembelajaran melalui tatap muka awal tahun 2021 dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat,” ujar Dr. Budi, melalui WhatsApp (WA), Minggu (19/07/2020).

Tiga jenis PJJ yaitu Daring (online), Luring (Offline), dan Blended Learning (pembelajaran dilakukan secara tatap muka dan secara virtual.

“Analisis kebutuhan peserta didik diantaranya demografi tempat tinggal peserta didik, memiliki perangkat dan ketersediaan untuk mengakses internet seperti HP, laptop atau komputer,” ujar Dr. Budi, keadaan sosial ekonomi dari orang tua peserta didik, serta kemampuan literasi IT peserta didik dan orangtuanya.

Yang berperan model PJJ ini adalah guru, peserta didik, dan orang tua yang mendampingi dalam proses pembelajaran di rumah, memotivasi peserta didik, dan memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar.

“Guru menyiapkan bahan ajar online, guru melaksanakan PJJ dengan fasilitas WA, zoom, class room, dll., siswa mengikuti PJJ di rumah didampingi orang tua, siswa mengerjakan tugas-tugas, guru memberi umpan balik, dan siswa mengisi google foam untuk memastikan belajar,” pungkas Dr. Budi, mari merubah pola pikir spy pikiran tidak nyaman padahal dapat membuat kita sukses itu menjadi pikiran nyaman. (Jajang Sukmana)***