Para Pejuang dari SDN 6 Cangkuang

0
507

KANDAGA.ID- Hamparan sawah dan semilir angin bulan Juli menyambut kedatangan wartawan Kandaga saat mengunjungi SDN 6 Cangkuang. Sekolah ini terletak di kampung Peundeuy, RT 01 RW 14, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut. Awalnya terdapat dua sekolah yang berdiri di atas tanah seluas 1330  m2 ini, yaitu SDN Cangkuang 07 dan SDN Cangkuang 08. Namun pada penghujung tahun 2017, sekolah tersebut berubah nama menjadi SDN 6 Cangkuang berdasarkan Peraturan Bupati Garut Nomor 60 Tahun 2017.

Terdapat beberapa ruangan yang menunjang proses pendidikan di SD yang sudah beroperasi sejak tahun 1982 ini, yakni enam bangun ruang kelas, satu unit ruang serba guna (biasanya berfungsi sebagai UKS dan mushala),  gudang, ruang guru, dan rumah dinas.

Kepala Sekolah SDN 6 Cangkuang, Yayat Ruhiyat berinisiatif untuk mengubah “wajah” sekolah menjadi lebih menarik.

Sebelum Diubah

Sesudah Diubah

Tidak hanya itu, ia memanfaatkan lahan di sekolah untuk berkebun, menanam tanaman berbunga, bahkan beternak ayam.

Kepala SDN 6 Cangkuang, Yayat Ruhiyat, S.Pd.

 ”Meskipun tidak seluas dan semegah sekolah lain, namun potensi sekolah ini bisa digali. Misal dari aspek lahannya, kami berinisiatif menanam pohon berbunga agar sekolah lebih asri. Selanjutnya, kami memanfaatkan lahan dekat gudang untuk berkebun. Selain itu, kami menggunakan lahan di belakang sekolah untuk beternak ayam, meskipun ayam yang kami miliki masih bisa dihitung jari.” Paparnya.

SDN 6 Cangkuang memiliki tenaga pendidik yang terdiri dari satu orang kepala sekolah, enam orang guru kelas, dan dua orang guru mata pelajaran (Guru Pendidikan Agama Islam dan Guru Pendidikan Jasmani). Jajaran pendidik ini siap memberikan layanan kemanusiaan bagi 167 orang peserta didiknya.

Memang bukan sekolah dasar berbasis islam, namun nilai-nilai religi dijunjung tinggi di sekolah ini. Dimulai dari kegiatan rutin membaca surat pendek sebelum pembelajaran berlangsung, menunaikan shalat duha di mushala, shalat dzuhur berjamaah, kegiatan ekstrakulikuler marawis dan kasidah, sampai mengimplementasikan nilai-nilai islami dalam kehidupan sehari-hari.

Peserta didik SDN 6 Cangkuang melewati harinya dengan aktivitas yang sama, yaitu belajar di sekolah. Rutinitas menjemukan ini tidak mematahkan semangat mereka untuk belajar. Mereka menyadari, bersekolah adalah bagian dari perjuangan agar mereka menjadi “manusia seutuhnya berjiwa Pancasila”.

Berkat kegigihannya, mereka mengukir banyak prestasi di bidang akademik dan non akademik. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya trofi, medali, dan lembaran-lembaran piagam penghargaan yang tersusun rapi di lemari ruang guru.

”Alhamdulillah, kami sangat bersyukur memiliki siswa-siswi yang luar biasa. Peluh kami seperti terbayar saat melihat prestasi mereka. Deretan penghargaan ini bukan hanya pajangan semata, namun sebagai bukti bahwa mereka memiliki kompetensi dan mampu berkompetisi dengan siswa sekolah lain.” Ucap pria paruh baya yang hampir dua tahun memimpin sekolah ini.

Namun di balik peserta didik yang berprestasi, terdapat pendidik yang mengabdi tanpa henti. “Selaku pendidik, kami berjuang untuk memberikan layanan pendidikan seoptimal mungkin kepada peserta didik kami. Sesuai pemantauan saya, guru-guru melaksanakan tugasnya dengan baik, meskipun mayoritas dari mereka ialah guru Non-PNS. Pahlawan tanpa tanda jasa memang patut disematkan untuk mereka.” pungkasnya. (Fitri Ayu)***