Disdik Garut Menjembatani Menyelamatkan Basa, Sastra dan Aksara Sunda

0
79

kandaga.id – Alih teknologi kian pesat, tatanan kehidupan hampir semuanya serba digital. Khawatir warisan seni budaya Sunda hilang dari jati diri orang Sunda (Priangan). Balai Bahasa Daerah Provinsi Jawa Barat menginstruksikan kepada seluruh Kabupaten/Kota se Jawa Barat untuk menyelamatkannya.

Demikian disampaikan Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, H. Asep Wawan Budiman, S.Pd., M.Si., yang menyambut dengan baik Pasanggiri Apresiasi Basa, Sastra dan Aksara Sunda yang dapat menggali minat sekaligus mengembangkan bakat peserta didik dalam seni budaya Sunda khususnya di Kabupaten Garut, dan Jawa Barat, Sabtu (13/11/2021).

Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, H. Asep Wawan Budiman, S.Pd., M.Si

Pasanggiri untuk jenjang SD dan SMP Negeri/Swasta se-Kabupaten Garut ini dilaksanakan Dinas Pendidikan Kabupaten Garut bekerja sama dengan Musyawarah Guru Mata Pelajaran Basa Sunda dan Kelompok Kerja Guru selama dua hari, Sabtu-Minggu (13-14/11/2021).

Khusus jenjang SMP/Sederajat, pasanggiri diikuti sebanyak 180 perwakilan dari tiap rayon, dengan tujuh mata lomba yang dilaksanakan di SMPN 1 Garut yaitu Pasanggiri Sajak, Biantara, Dongèng dan Pupuh dan di SMPN 2 Garut yaitu Pasanggiri Ngarang Carpon, Maca & Nulis Aksara Sunda, serta Borangan.

“Kegiatan ini sebagai upaya menjembatani menyelamatkan warisan para leluhur kita, untuk dipelihara sekaligus menjaganya oleh orang Sunda termasuk oleh generasi selanjutnya,” ucap H. Asep Wawan, meskipun pasanggiri ini program Provinsi Jawa Barat, yang nantinya para juara akan ditampil di tingkat provinsi.

Selain memperkenalkan kepada peserta didik, kata Kabid SMP, dengan pasanggiri ini untuk merangsang dan menggali potensi yang ada. Terbukti, tambah H. Asep Wawan, setelah dibina dan dilombakan potensi-potensi anak itu dapat terlihat.

“Pasanggiri ini memperkenalkan seni budaya Sunda ke orang Sunda sendiri, sekaligus untuk mengantisipasi dari tergerusnya seni budaya Sunda,” ucap H. Asep Wawan, seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang.

Seni budaya Sunda ini sudah jadi pelajaran Mulok yang wajib dilaksanakan di setiap sekolah dari jenjang SD, SMP, dan SMA/Sederajat di Jawa Barat.

Kasi Kelembagaan dan Kesiswaan Bidang SMP, H. Iyan Sopiyan, S.Ip., menyerahkan piala kepada peserta didik peraih juara petama.

Disisi lain, seni budaya Sunda ini ada keterkaitan dengan pariwisata, bahkan bisa jadi daya tarik tempat pariwisata itu sendiri terutama yang ada kaitannya dengan budaya-budaya atau situs-situs yang ada. Contohnya di Situ Cangkuang, di sana ada budaya Sunda, adat Sunda, situs dan tradisi Sunda yang harus dilestarikan. Dan itu menjadi daya tarik tersendiri.

Untuk itu, Kabid SMP mengajak, untuk selalu menjaga dan melestarikan seni budaya Sunda, dengan mengenal berbagai aktivitas kegiatan, serta berbagai tradisi-tradisi seni budaya yang ada di Pasundan.

Sekretaris MKKS SMP Kabupaten Garut, Iwan Ridwan, S.Pd

“Meskipun sekarang di era digitalisasi, jangan lupa terhadap budaya kita sendiri. Karena akan mengangkat harkat derajat dan martabat orang Sunda sendiri,” pungkasnya.

Sementara itu, Sekretaris MKKS SMP Kabupaten Garut, Iwan Ridwan, S.Pd., menambahkan, pasanggiri ini sebagai jembatan dalam menyelamatkan seni budaya Sunda.

Dirinya merasa prihatin dengan keadaan zaman sekarang, keluarga orang Sunda kadang-kadang di keluarga jarang menggunakan basa Sunda. Padahal, kata Iwan, itu sangat sederhana.

Selain itu, Iwan pun prihatin dengan pasanggiri yang minim media pembelajaran pendukung. Seperti pada Pasanggiri Mendongeng, di radio-radio sekarang sudah tidak ada mendongeng. Jadi terang Iwan, dengan pasanggiri ini, mencoba mengangkat kembali budaya-budaya Sunda.

Ketua MGMP Basa Sunda jenjang SMP, Lilis Yuniarningsih, S.Pd

Terpisah, Ketua MGMP Basa Sunda jenjang SMP, Lilis Yuniarningsih, S.Pd., pasanggiri ini merupakan realisasi rencana kerja Balai Bahasa Daerah Provinsi Jawa Barat dalam merevitalisasi pembelajaran bersama MGMP, KKG dan Dinas Pendidikan. Selain itu, tambah Lilis, juga untuk merealisasikan program Gerakan Indonesia Membaca (GIM), sekaligus jadi mengevaluasi sekolah dalam membimbing dan membinanya.

Melihat proses alih teknologi sekarang ini, Lilis sangat dikhawatirkan. Namun dengan adanya kegiatan ini, dirinya berharap peninggalan para leluhur ini dapat terjaga, terpelihara dan terlindungi selamanya.

“Kalau bukan kita, siapa lagi untuk menjaga dan memelihara peninggalan para leluhur kita ini,” tegasnya.

Namun, kata Lilis, tema pasanggiri ini sudah ditentukan oleh Balai Bahasa Daerah ini yaitu “Utamakeun Basa Indonesia, Mumule Basa Indung, Kawasa Basa Deungeun“, ini memang sangat berat. Pasalnya, kata Lilis ditengah kehidupan zaman sekarang ini ditakutkan “Jati kasilih ku Junti“. Untuk itu, Lilis berharap jangan hanya pada pasanggiri saja, tapi direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. ***Jajang Sukmana