SMKN 1 Garut Dijadikan Tempat Penutupan Gerakan Magrib Mengaji

0
102

kandaga.id – Selaras dengan salah satu program pemerintah, yaitu Gerakan Garut Mengaji, Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII) Kabupaten Garut bersama Berdaya Foundation menutup kegiatan, setelah 6 bulan menjalankan Gerakan Magrib Mengaji kepada masing-masing lima perwakilan dari jenjang SD, SMP, SMA, SMK.

Asep Ridwan Daleh, M.P.d., saat menutup Gerakan Magrib Mengaji di Sasana Wibawa Mukti, SMKN 1 Garut, Jum’at (26/3/2021).

Penutupan dilakukan Ketua MGMP PAI yang juga Ketua AGPAII Kabupaten Garut, Asep Ridwan Daleh, M.P.d., dihadiri Kepala SMKN 1 Garut, H. Bejo Siswoyo, S.TP., M.Pd., Ketua Berdaya Foundation, dan 20 utusan salah satu perwakilan dari guru agama sebagai pendobrak kembali kegiatan program Gerakan Magrib Mengaji.

Sebelumnya, launching program Gerakan Magrib Mengaji ini dilaksanakan di Kantor Cabang Dinas Pendidikan Cabang XI Jawa Barat, namun untuk penutupan dilaksanakan di Sasana Wibawa Mukti, SMKN 1 Garut, Jum’at (26/3/2021).

Dalam sambutannya, Kepala SMKN 1 Garut, H. Bejo Siswoyo, S.TP., M.Pd., sangat mengapresiasi terhadap program Gerakan Magrib Mengaji, dan mengusulkan yang diucapkannya sampai tiga kali, agar program Gerakan Magrib Mengaji ini jangan diputus sampai disini (6 bulan-red) karena efeknya luar biasa, bagi generasi bangsa yang akan menggantikan kita semua.

H. Bejo Siswoyo, S.TP., M.Pd.

Dirinya menggambarkan akhlak kehidupan manusia di jaman sekarang yang bersembrawut, tidak ada sopan santun dijalanan yang tak jauh dengan kehidupan di rumah, seperti saat berangkat dari Bekasi menuju Depok, dari jalan tol luar biasa nyaman, begitu keluar dari Lebak Bulus ke Depok betapa sembrawutnya kanan kiri sudah tidak beraturan.

Sementara itu, satu-satunya guru honorer yang diajak dalam penutupan ini, Asep Jauhari A menjelaskan, program magrib mengaji dimulai tahun 2018 namun mengalami kevakuman. Atas dasar itu, Ketua MGMP PAI yang juga Ketua AGPAII Kabupaten Garut, mengusulkan untuk kerjasama dengan pihak pemerintah yang kebetulan sejalan. Dan pemerintah memberikan SK, sebagai utusan salah satu perwakilan dari guru agama sebagai pendobrak kembali kegiatan program magrib mengaji.

Asep Jauhari A.

Kegiatan ini, untuk memantau setiap anak di waktu magrib apakah digunakan untuk pengajian atau tidak, pihaknya lebih memfokuskan pada anak yang diajar lebih dulu. Dan kalau ini berhasil akan di programkan di sekolah, dengan SK dari bupati kepada kepala sekolah, untuk memberikan dukungan kepada guru PAI di sekolah masing-masing, untuk melaksanakan kegiatan program Garut Mengaji.

Program ini sebenarnya untuk mengembalikan kebiasaan-kebiasaan orang tua dulu, dimana waktu magrib sampai isya digunakan untuk pengajian. Karena sekarang sudah mulai memudar, anak-anak memilih diam di rumah tapi tidak melakukan mengaji, dan yang paling bagus anak-anak mengaji itu dilakukan dengan seusianya di mesjid atau di madrasah.

Setiap bulan, kata Asep Jauhari, kegiatan ini selalu di evaluasi, sekaligus diberi motivasi, pengarahan, pemantapan dari para pemateri terpilih dan ahli di bidangnya, seperti Tahfiz Al-Qur’an, tajwid Al-Qur’an dan lain sebagainya, dan pihaknya merasa bersyukur, pada kurikulum 2013, mata pelajaran PAI di sekolah bertambah satu jam, dari dua jadi tiga jam.

Penutupan diakhiri dengan mengaji bersama 30 juz sampai khatam dan pemotongan tumpeng. (Jajang Sukmana)***