Kasi SD, Beni: Pasanggiri Upaya Melestarikan Basa, Sastra dan Aksara Sunda

0
118
Kasi Kelembagaan dan Kesiswaan, Bidang SD Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Beni Hadi Saputra, S.Pd., M.M.

kandaga.id – Menggandeng Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Basa Sunda dan Kelompok Kerja Guru (KKG), Dinas Pendidikan Kabupaten Garut menggelar Pasanggiri Basa, Sastra dan Aksara Sunda untuk jenjang SD, SMP Negeri/Swasta se-Kabupaten Garut.

Untuk jenjang SD pelaksanaan pasanggiri dikonsentrasikan di tujuh titik sekolah yang ada lingkungan Korwil Bidang Pendidikan Kecamatan Garut Kota, Minggu (14/11/2021).

Ketujuh titik tersebut yaitu di SDN 10 Regol (Pupuh), SDN 13 Regol (Biantara), SDN 5 Pakuwon (Borangan), SDN 1 Kota Kulon (Sajak), SDN 2 Kota Kulon (Ngarang Carpon, Maca & Nulis Aksara Sunda), dan SDS Muhammadiyah 2 (Dongeng).

Ketua pelaksana, Kasi Kelembagaan dan Kesiswaan, Bidang SD Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Beni Hadi Saputra, S.Pd., M.M., mengatakan, pasanggiri ini untuk memfasilitasi bakat, minat sekaligus mengukur kemampuan serta memelihara dalam mengembangkan bahasa, sastra dan aksara Sunda di satuan pendidikan.

Lanjut Beni, kegiatan ini sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah, dalam pengimplementasian Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dan Gerakan Literasi Sekolah (GLS).

“Tujuannya untuk memperkuat sikap atau karakter peserta didik, memperluas wawasan, serta melatih dan mengembangkan sikap positif terhadap budaya Sunda,” ujar Beni, dirinya berharap melalui pasanggiri ini, bahasa, sastra, dan aksara Sunda terus terjaga serta terpelihara.

Selain itu, Kasi Kelembagaan dan Kesiswaan Bidang SD ini menjelaskan, sejak diimplementasikannya Kurikulum 2013, Bahasa dan Sastra Daerah telah ditetapkan sebagai mata pelajaran muatan lokal (mulok) yang wajib diajarkan pada jenjang SD dan SMP di wilayah Provinsi Jawa Barat.

Berkaitan dengan ketentuan tersebut, tambah Beni, mata pelajaran mulok bahasa daerah (Sunda) memiliki kedudukan penting untuk memperkenalkan kearifan lokal (local wisdom) sebagai landasan etnopedagogis.

“Bahasa daerah dianggap sebagai kekayaan dalam kebhinekatunggalikaan bahasa dan budaya Nusantara yang menjadi landasan pendidikan karakter bangsa,” ungkapnya.

Pembelajaran bahasa daerah pun, kata Beni, dianggap sebagai gerbang untuk menanamkan dan mempertajam nilai-nilai karakter bangsa, melatih kepekaan berpikir, olahrasa, olahkarsa, serta sarana menyalurkan gagasan dan imajinasi secara kreativitas.

“Diharapkan peserta didik memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap serta pengalaman apresiasi dan ekspresi bahasa dan sastra, di samping meningkatkan kecerdasan logika dan retorika,” pungkas Beni. ***Jajang Sukmana