Sekolah Penggerak Angkatan I dan II se-Kabupaten Garut, Mendapat Bimbingan BBPMP Jabar

0
261

“SEKOLAH PENGGERAK HARUS MALU TIDAK BERGERAK, DENGAN LABEL SEBAGAI SEKOLAH PENGGERAK”

GARKOT, (kandaga.id).- Sekolah penggerak angkatan I dan II se-Kabupaten Garut mendapatkan pelatihan perencanaan, penatausahaan, dan pelaporan sekolah menggunakan platform rapor pendidikan dan SDS-Arkas dari Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Barat.

Kegiatan dilaksanakan selama tiga hari, mulai Kamis-Sabtu (21-23/7/2022) di lima tempat yaitu di SMPN 1, 2, 6 Garut, Kecamatan Garut Kota, dan SMPN 1, 4 Kecamatan Tarogong Kaler.

Kasi Kelembagaan dan Kesiswaan, Bidang SD Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Beni Hadi Saputra, S.Pd., M.M., mewakili Kadisdik, secara resmi membuka kegiatan di SMPN 2 Garut, Jl. A. Yani No. 43, Kelurahan Pakuwon, Kecamatan Garut Kota, Kamis (21/7/2022).

Sekolah penggerak di Kabupaten Garut belum banyak. Untuk itu, Beni menekankan kepada seluruh peserta agar mengikuti sepenuhnya, tidak satu pun terlewat informasi yang disampaikan narasumber.

“Mudah-mudahan ilmu yang sangat berharga ini bermanfaat, dipenuhi dengan keberkahan, dan dapat memajukan sekolah serta berprestasi,” ucapnya.

Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka mengawal sekolah-sekolah penggerak, untuk bisa memanfaatkan dana BOS kinerja sesuai dengan Permendikbud Nomor 2 tahun 2022.

Dan tentu saja dalam penggunaan dana BOS ini mengacu pada panduan yang sudah ditetapkan, bahkan Kementerian pun sudah mengeluarkan platform SDS-ARKAS (Sumber Daya Sekolah-Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah).

Ternyata, aplikasi ARKAS ini tidak hanya untuk sekolah penggerak saja, akan tetapi semua sekolah, semua satuan pendidikan wajib menggunakan platform ini.

Sehingga dalam kegiatan ini peserta akan diberikan pemahaman tentang ARKAS, juga dibekali untuk menganalisis rapor pendidikan atau profil pendidikan.

Dari kegiatan tiga hari ini, diharapkan semua tidak kebingungan lagi tentang rapor pendidikan. Karena sekolah penggerak sebagai pionir, sebagai contoh, sebagai teladan bagi sekolah-sekolah lainnya dalam melakukan perencanaan berbasis digital.

Dalam kegiatan ini terungkap, ilmu yang diberikan kepada sekolah penggerak tidak hanya untuk dirinya sendiri saja, akan tetapi harus disampaikan ke sekolah-sekolah lain yang ada di sekitarnya.

Jika sekolah lain kebingungan seperti apa tentang projek profil pelajar Pancasila, maka sekolah penggerak harus memberitahukannya.

Sungguh beruntung jadi bagian dari sekolah penggerak, karena seluruh kebijakan dari Kementerian, anggaran, bantuan itu diprioritaskan paling terdahulu.

Makanya, kata penanggung jawab akademik BBPMP Jabar, Dini Irawati, sekolah penggerak harus malu tidak bergerak dengan label yang disandangnya sebagai sekolah penggerak. ***Jajang Sukmana