KCD Aang : SMKN 1 Garut Sudah Sesuai dengan Program Pusat

0
125
Kepala Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Wilayah XI Jawa Barat, Drs. H. Aang Karyana, M.Pd

kandaga.id Pemerintah terus berupaya mendukung program peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia, salah satunya dengan diterbitkannya Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK dalam rangka Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Sumber Daya Manusia Indonesia.

Khusus lulusan SMK, kata Direktur SMK, Dr. Ir. M. Bakrun, M.M., program revitahsasi SMK yang dimulai pada tahun 2017, dan di tahun 2021 ini pemerintah menggulirkan program SMK Pusat Keunggulan (PK) sebagai program priontas dalam rangka revitalisasi SMK, yang fokus pada pengembangan serta peningkatan kualitas dan kinerja SMK dengan bidang priontas yang diperkuat melalui kemitraan dan penyelarasan dengan dunia kerja.

“Syukur Alhamdulillah di wilayah kerja kami ada tujuh SMK Pusat Keunggulan (PK) dari 895 sekolah se-Indonesia, dan tentu menjadi kebangga tersediri bagi kami,” ucap Kepala Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Wilayah XI, Drs. H. Aang Karyana, M.Pd., usai membuka In-House Training (IHT) SMKN 1 Garut di area terbuka Sasana Wibawa Mukti SMKN 1 Garut, Senin (2/8/2021).

Dengan adanya sekolah PK di Garut ini, nantinya bisa disosialisasikan dan ada imbas ke SMK-SMK lainnya, sehingga apa yang jadi program pusat ini untuk kedepannya semua SMK menjadi PK, karena lulusan SMK itu harus siap bekerja.

“Sebetulnya program yang digulirkan dari pusat itu sudah terlihat di SMKN 1 Garut, yang mana di SMKN 1 Garut ini sudah ada SMK Juara, SMK Wirausaha, dan kerjasama dengan Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI),” ucapnya.

Menurutnya, lulusan SMK itu bisa bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan, tersalurkan, punya kompetensi dan karakter.  Karena kata Aang, punya kompetensi tidak berkarakter atau punya karakter tidak punya kompetensi, itu tidak baik.

Selain itu, Aang merasa khawatir dimasa pandemi Covid-19 ini pembelajaran dilakukan secara daring sangat berdampak sekali terutama pada anak didik SMK, karena di SMK itu 70% praktek, 30% teori. Untuk itu, Aang mengharapkan sekali dilakukan pembelajaran tatap muka, terutama dalam pembelajaran praktek, meski dalam pelaksanaanya harus secara ketat dalam penerapannya. 

Kenapa di SMK itu harus praktek? Karena ada sertifikasi kompetensi keahlian sebagai buktinya yang sangat dibutuhkan peserta didik untuk perusahaan-perusahaan. Diibaratkan bisa sopir tapi tidak ada SIM-nya gitu,” ungkapnya.

Pada pembukaan IHT secara luring ini dihadiri Pengawas Bina sekaligus narasumber, H. Wawan Yogaswara, S.Pd., M.Pd., pendamping sekaligus narasumber dari Balai Besar/Balai Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BB/BPPMPV) BMTI Bandung, Niamul Huda, ST., M.Pd., Kepala SMKN 1 Garut, H. Bejo Siswoyo, STP., M.Pd., para Wakasek, sebagian guru dan juga disaksikan guru lainnya secara virtual. ***Jajang Sukmana