Hubungan Pelibatan Orang Tua dan Self-Efficacy dengan Perencanaan Karir Kelas XII SMA Negeri di Kecamatan Tarogong Kidul

0
176
Oleh: Susilawati (Guru Bimbingan dan Konseling, SMAN 1 Garut)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pelibatan orang tua dan self-efficacy dengan perencanaan karier pada kelas XII. Penentuan subjek penelitian didasarkan untuk mengetahui keeratan hubungan perencanaan karier pada peserta didik sedini mungkin pada tingkatan peserta didik kelas XII SMAN (Sekolah Menengah Atas Negeri) dengan menggunakan teknik pengambilan sampel yaitu teknik proporsional random sample. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dan metode pengumpulan data yang digunakan yaitu dengan menggunakan kuesioner (angket). Teknik analisis data yang dipergunakan adalah teknik uji korelasi Pearson dan teknik korelasi ganda dengan bantuan rumus regresi berganda untuk menghitung tingkat korelasi.

Hasil penelitian ini adalah terdapat hubungan signifikan pelibatan orang tua dengan perencanaan karier ditunjukkan dengan P value 0,000 .< 0,05 dengan koefisien korelasi sebesar 0,498 menunjukkan keeratan hubungan sedang, terdapat hubungan signifikan self-efficacy dengan perencanaan karier dengan P value 0,000 < 0,05 dengan koefisien korelasi sebesar 0,634 menunjukkan keeratan hubungan kuat, terdapat hubungan pelibatan orang tua dan self-efficacy dengan perencanaan karier dengan P value 0,000 < 0,05 menunjukkan koefisien korelasi sebesar 0,644 yang berarti memiliki hubungan kuat.

Kata Kunci: pelibatan orang tua, self-efficacy, perencanaan karier


Abstract

This study aims to determine correlation of parent involvement and self-efficacy with career planning in 12th grade students. Determination of research in students as early as possible at the student level of 12th grade students of Senior High School using the sampling technique is proportional random sample technique. The research method used is quantitative research method and data collection method used is questionnaire. The data analysis technique used are Pearson correlation technique and multiple corre lation technique with the help of multiple regression formulas to calculate the degree of correlation.

The results of study are there is a significant correlation of parent involvement with career planning as indicated by P value 0,000 < 0,05 with a coefficient correlation of 0,498 indicating the closeness of a moderate correlation, there is a significant correlation of self efficacy with career planning as indicated by P value 0,000 < 0,05 with a coefficient correlation of 0,634 indicating a strong correlation, there is a correlation between parent involvement and self-efficacy with career planning indicated by P value 0,000 < 0,05 indicating a coefficient correlation amount of 0,644 which means it has a strong correlation.

Keywords: parental involvement, self-efficacy, career planning

PENDAHULUAN
Peningkatan mutu pendidikan perlu diperha­tikan kaitannya dengan masalah kesiapan ka­rier peserta didik. Peserta didik yang mempu­nyai potensi tinggi pasti memiliki peluang besar dalam memperoleh keberhasilan karier yang diharapkan pada masa yang akan da­tang, yang dimaksudkan adalah apabila peserta didik menggunakan potensi dan kemampu­an yang dimilikinya secara optimal dan sejak dini dalam menentukan perencanaan terhadap karier pada jenjang pendidikan lanjutan mau­pun pekerjaan, maka peserta didik dapat mencapai perencanaan karier secara optimal.

Perencanaan karier di tingkat SMA seharusnya sesuai dengan aspek perkembangan pada Panduan Operasional Bimbingan Konseling di SMA yaitu perilaku kewirausahaan, wawasan dan kesiapan karier. Keduanya bertujuan untuk membantu perencanaan karier peserta didik agar optimal dan berhasil, pelaksanaan pemberian layanan tersebut dilakukan pada ting­katan kelas X sampai kelas XII. Fakta ini sela­ras dengan hasil asesmen yang diberikan ke­pada kelas XII SMA Negeri di Kecamatan Tarogong Kidul yang diberikan layanan orientasi sekolah pada awal masuk sekolah dan kegiat­an penjurusan saja oleh guru BK. Aspek per­kem­bangan dimaksudkan agar peserta didik mampu mencapai perencanaan karier dengan matang.

Peserta didik memiliki tingkatan dalam tahapan perkembangan yang diawali sejak lahir sampai meninggal. Salah satu tahapannya ada­lah pada masa remaja. Masa remaja yang dimaksudkan adalah salah satu fase perkembangan dari kehidupan manusia. Berdasarkan Hurlock (2009) masa remaja adalah masa yang sangat berhubungan pada penentuan perkembangan dan pertumbuhan di masa depan, karena perilaku dan aktivitas yang dila­kukan pada masa remaja menjadi masa awal dalam mengukir kehidupan yang lebih baik di masa depan mereka nantinya.
Sejalan dengan tugas perkembangan remaja menurut Havighurst yang dikutip oleh Yusuf (2011), peserta didik Sekolah Menengah Atas diharapkan dapat menyelesaikan tugas per­kem­bangannya dalam bidang karier yaitu me­milih dan mempersiapkan karier.

Selain itu, Hurlock (dalam Yusuf, 2011) mengemukakan bahwa peserta didik Sekolah Menengah Atas mulai memikirkan masa depan mereka secara sungguh-sungguh. Artinya, peserta didik me­mil­iki tuntutan untuk memilih atau mengambil keputusan sesuai dengan kemampuan dan mempersiapkan diri.

Ditinjau dari tahap perkembangan karier menurut Super dan Jordan yang dikutip oleh Yusuf (2011) peserta didik SMA termasuk da­lam tahap eksplorasi pada tingkat tentatif dimulai dari usia 14 sampai 17 tahun dan transisi yang dimulai dari usia 18 sampai 21 ta­hun. Faktor-faktor yang ditentukan dan dipertimbangkan pada tahap tentatif yaitu kebutuhan, minat karier, kapasitas dalam kemampuan, nilai-nilai dan kesempatan yang muncul. Se­la­in itu, pada tahap transisi dimana individu ber­usaha untuk memperoleh karier dan mengambil keputusan terhadap masa depan. Bila individu mempunyai kesiapan untuk membuat perencanaan karier, memanfaatkan sumber informasi karier, dan dapat mengambil keputusan karier maka peserta didik telah mencapai keberhasilan dalam merencanakan kariernya.

Berdasarkan instrument perencanaan karier yang disebarkan melalui google form pada tanggal 31 Maret 2019 pada peserta didik kelas XII di SMA di Kabupaten Garut yaitu SMA Negeri 1 Garut, SMA Negeri 6 Garut, dan SMA Negeri 15 Garut yang diisi oleh 43 res­ponden menunjukkan hasil bahwa presentase tertinggi yaitu 39,5% peserta didik merasa ce­mas terhadap masa depan setelah lulus sekolah.

Berdasarkan Panduan Operasional Bimbing-an Konseling (POP BK) di SMA (Kependidikan, 2016) bahwa permasalahan yang berkaitan dengan karier cukup rumit yang meliputi kecemasan perencanaan karier, kesulitan penentuan kegiatan penunjang karier, kesulitan penentuan kelanjutan studi. Maka dari itu, perkembangan informasi yang semakin pesat dengan kebutuhan karier berkesinambungan dengan bimbingan dan konseling karier dalam aspek perencanaan karier, lebih mendalam definisi istilah dalam perencanaan karier memiliki sejumlah kesamaan secara garis besar.

Guru BK harus mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perencanaan karier pe­ser­ta didik. Faktor yang mempengaruhi perencanaan karier dapat berasal dari faktor internal (faktor yang muncul dari dalam diri individu) dan eksternal (faktor yang muncul dari luar atau pengaruh lingkungan individu). Salah satu dari beberapa faktor internal yang mempengaruhi perencanaan karier adalah self-efficacy. Self-efficacy adalah kepercayaan atau keyakinan seseorang atas kemampuannya dalam menguasai kondisi dan menghasilkan sesuatu yang menguntungkan.

Menurut Bandura (1977; 1986) yang dikutip oleh Warsito, (2012) self-efficacy adalah sua­tu keyakinan individu bahwa dirinya mampu untuk melakukan sesuatu dalam hal tertentu dengan berhasil. Self-efficacy pertama dimun­culkan oleh tokoh yang bernama Bandura, yang menekankan peranan penting sebuah pengharapan yang dimiliki individu tentang se­bab-akibat dalam perbuatannya. Secara se­derhana, self-efficacy dapat diartikan sebagai keyakinan atau kepercayaan.

Sedangkan, menurut (Whiten & Byrne, 1991) yang dikutip oleh Ghufron & Risnawati (2012) menyebutkan self-efficacy sebagai evaluasi peserta didik mengenai kemampuan atau kompetensi individu untuk melakukan suatu tugas, mencapai tujuan, dan mengatasi hambatan-hambatan yang terjadi.

Sumber self-efficacy menurut Bandura, 1998 yang dikutip oleh Ghufron & Risnawati (2012:76) mengungkapkan bahwa self-efficacy individu didasarkan pada empat hal, yak­ni pengalaman berhasil, kejadian yang diha-yati seolah-olah dialami sendiri, persuasi verbal, keadaan fisiologis dan suasana hati, Se­lain itu, adapun dimensi dalam self-efficacy menurut Bandura (1997) yang dikutip oleh Ghufron & Risnawati (2012:80) mengungkap­kan bahwa self-efficacy individu dapat dilihat dari dimensi tingkat (level) yaitu mengenai de­rajat kesulitan, dimensi keluasan (generality) mengenai ruang lingkup pemahaman individu, dan dimensi kekuatan (strength) mengenai kemantapan individu.

Selain self-efficacy, Menurut Rachmawati (2010) pelibatan orang tua juga merupakan faktor eksternal dari keluarga yang dapat mem­pengaruhi masa depan seseorang. Pelibatan orang tua merupakan salah satu faktor yang dimungkinkan dapat menjadi penyebab perencanaan karier pada masa depan karier anak. Mendukung pernyataan tersebut, peng­embangan diri individu dipengaruhi oleh ling­kungan tempat tinggal maupun lingkungan bermainnya.

Penelitian (Marini & Hamidah, 2014) me­nunjukkan bahwa lingkungan keluarga mempunyai sumbangsih yang begitu besar dalam upaya mempersiapkan anak-anak di masa depan. Mula-mula dari keluarga anak-anak akan bertanggung jawab atas pendidikannya, sehingga keluarga dapat dikatakan sebagai pondasi dasar bagi pola perilaku serta per­kem­bangan pribadi anak. Keluarga mempunyai dampak yang sangat besar dalam pembentukan dan pendidikan karakter anak dalam mengambil keputusan pada skala kecil mau­pun besar.

Friedman et al.,2010 dalam (Yosef, 2005) Menyebutkan bahwa orang tua meliputi ayah dan ibu yang merupakan contoh dan guru pertama untuk anak-anaknya karena mereka yang menginterprestasikan tentang dunia dan ling­kungan sosialpada anak-anaknya.

(Berger,1995:2) yang dikutip oleh Diadha (2015) peran orang tua dalam implementasi kegiatan keseharian diasumsikan memiliki pengaruh besar pada perkembangan kepribadian anak, seperti kegiatan anak mengamati dan melihat contoh perilaku orang tuanya da­lam berkata, bertindak, dan berpenampilan.

Dimensi pelibatan orang tua pada pendidi­kan peserta didik yang dikemukakan oleh (Ep­stein & Salinas, 2004) dibedakan menjadi en­am bentuk atau tipe pelibatan orang tua yakni pengasuhan, komunikasi), pendampingan pembelajaran di rumah, membuat keputusan, bekerjasama dengan komunitas masyarakat.

Berdasarkan paparan di atas, maka penelitian ini dilakukan untuk menguji hubungan pe­rencanaan karier dengan mengambil faktor yang bersumber dari dalam (self-efficacy) dan dari luar (pelibatan orang tua).


METODE
Menurut Sugiyono, (2018) Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dan menggunakan rancangan penelitian yaitu rancangan penelitian korelasi dengan metode analisis statistik yang digunakan adalah korelasi Pearson dan analisis korelasi ganda deng­-an bantuan rumus regresi pada program bantuan SPSS 24 for windows. Jenis penelitian yang dipakai yaitu penelitian kuantitatif adalah jenis pendekatan analisis deskripsi kuantitatif dengan pendekatan penelitian explanatory research. Penelitian exp lanatory research merupakan penelitian yang menjelaskan hu­bug­an antara variabel-variabel X dan Y.

Pengambilan sampel dalam pelitian ini menggunakan proportionate random sampling, teknik ini dilakukan apabila populasi memiliki anggota atau unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional. Berdasarkan hasil penghitungan, diperoleh jumlah sampel 283 yang masing-masing akan dibagi secara proporsional pada SMAN di Kecamatan Tarogong Kidul yang terdiri dari 88 sampel di SMAN 1 Garut, 97 sampel di SMAN 6 Garut, 98 sampel di SMAN 15 Garut. Subyek penelitian diambil pada tingkatan kelas XII karena penelitian juga bertujuan untuk mengetahui hubungan perencanaan karier sedini mung­kin ditingkatan SMA. Oleh karena itu, yang dipilih oleh peneliti adalah kelas XII.
Proses pengumpulan data dilakukan deng­an cara menyebarkan kuesioner pelibatan orang tua, self-efficacy, dan perencanaan karier pa­da peserta didik kelas XII SMA Negeri di Kecamatan Tarogong Kidul dengan analisis data korelasi Pearson dan korelasi berganda.


HASIL DAN PEMBAHASAN
Penelitian ini melibatkan 283 peserta didik kelas XII SMA Negeri di Kecamatan Tarogong Kidul yang terdiri dari SMA Negeri 1 Garut, SMA Negeri 6 Garut dan SMA Negeri 15 Ga­rut. Berdasarkan hasil penghitungan dengan teknik proportionate random sampling diperoleh jumalah sampel 283 yang masing-masing dibagi secara proporsional yaitu 88 sampel pada SMAN 1 Garut, 97 sampel pada SMAN 6 Garut, dan 98 sampel pada SMAN 15 Garut. Data di atas merupakan data hasil pe-ng­olahan data menggunakan aplikasi SPSS versi 24 for windows untuk mencari nilai mean, median, modus, varian, standar deviasi. Berikut disajikan data :

Tabel 1. Deskripsi Data Statistik

Data tersebut menunjukkan bahwa mean atau rata-rata pada variabel pelibatan orang tua sebesar 89.95, modus sebesar 91, median atau nilai tengah sebesar 91.00, standar deviasi sebesar 10.296. Sedangkan varians sebesar 106.016. Sedangkan, data mean atau rata-rata pada variabel self-efficacy sebesar 83.20, modus sebesar 82, median atau nilai tengah sebesar 82.00, standar deviasi sebesar 10.098, varians sebesar 101.963. Selanjutnya, mean atau rata-rata pada variabel perencanaan karier sebesar 103.50, modus sebesar 105, median atau nilai tengah sebesar 104.00, standar deviasi sebesar 9.319. Sedangkan varians sebesar 86.840.

Tabel 2. Ringkasan Hasil Uji Korelasi Pearson

Berdasarkan pengujian hipotesis pertama me­nekankan pada tingkat kekuatan atau ke­mantapan individu terhadap keyakinannya.
Selain itu, terdapat model SCCT yang di­kem­bangkan oleh Robert W. P dalam model pengembangan minat pendidikan adalah self-efficacy. Minat dalam kegiatan yang relevan dengan karier dapat dilihat sebagai hasil dari self-efficacy yang berhasil. Oleh karena itu, peserta didik yang memiliki self-efficacy tinggi pasti akan berusaha menggunakan uji korelasi Pearson diketahui bahwa pelibatan orang tua memiliki hubungan yang positif atau signi­fikan dengan perencanaan karier. Hal in i dapat dilihat pada P value = 0.000, P value < 0.05 dan nilai koefisien korelasi pada variabel pelibatan orang tua adalah sebesar 0.498. Hu­bungan ini menyatakan dimana kenaikan atau penurunan pada variabel bebas pelibatan orang tua akan mengakibatkan kenaikan atau penurunan pada variabel terikat perencanaan karier. Hubungan yang signifikan ini menunjukkan bahwa semakin t inggi pelibatan orang tua maka semakin matang pula perencanaan karier peserta didik.

Dalam kaitannya dengan perencanaan karier, pelibatan orang tua menjadi faktor eksternal yang cukup kuat dalam hal pengasuhan, komunikasi, pendampingan, pembelajaran di rumah, sampai pada pengambilan keputusan. Pelibatan orang tua yang tinggi pada peserta didik akan membuat peserta didik menjadi matang dan berhasil untuk mencapai perencanaan karier yang optimal, sebaliknya pelibatan orang tua yang rendah pada peserta didik akan menghambat peserta didik dalam mencapai keberhasilan.

Berdasarkan pengujian hipotesis kedua yang menggunakan teknik analisis uji korelasi Pearson diketahui bahwa self-efficacy dengan perencanaan karier memiliki hubungan yang positif. Hal ini dapat dilihat pada P value = 0.000, P value < 0.05 dan nilai koefisien korelasi pada variabel pelibatan orang tua adalah sebesar 0.634. Hubungan ini menyatakan dimana kenaikan atau penurunan pada variabel bebas self-efficacy akan mengakibatkan kenaikan atau penurunan pada variabel terikat perencanaan karier.

Bandura (1997) (dalam Ghufron & Risnawati, 2012:80) menyatakan bahwa self-efficacy individu dapat dilihat dari dimensi tingkat (level) berkaitan dengan derajat kesulitan yang dibutuhkan pada masing-masing tingkat. Individu yang memiliki self-efficacy yang tinggi cenderung memilih tugas yang tingkat kesukarannya sesuai dengan kemampuannya. dimensi keluasan (generality) berkaitan dengan luas bidang tingkah laku yang mana individu merasa yakin akan kemampuannya, individu yang memiliki self-efficacy tinggi cenderung memiliki keyakinan yang luas pada setiap kondisi atau aktivitas yang dihadapinya. Dimensi kekuatan (strength) lebih keras dalam menghadapi tantangan sebaliknya orang yang memiliki self-efficacy rendah akan mengurangi usaha mereka untuk bekerja dalam situasi yang sulit.

Tabel 3. Hasil Uji Regresi Berganda

Berdasarkan hasil diatas menunjukkan bah­wa pada P value = 0.000, P value lebih kecil daripada 0.05 dan besaran nilai koefisien reg­resi pada variabel pelibatan orang tua adalah 0.644. Maka, dapat disimpulkan bahwa pelibat­an orang tua dan self-efficacy dengan pe­rencanaan karier memiliki hubungan yang erat.

Perencanaan karier peserta didik dipenga­ruhi oleh faktor yang muncul dalam diri dan fak­tor yang muncul dari luar atau pengaruh ling­kungan peserta didik. Salah satu faktor yang mempengaruhi perencanaan karier ada­lah self-efficacy. Menurut Bandura (1977; 1986) yang dikutip oleh Warsito (2012) self-efficacy adalah suatu keyakinan individu bah­wa dirinya mampu untuk melakukan sesuatu dalam situasi tertentu dengan berhasil. Selain self- efficacy, pelibatan orang tua juga merupa­kan faktor dari perencanaan karier sese-orang.


PENUTUP
Simpulan

Simpulan penelitian yang membahas “Hu­bungan pelibatan orang tua dan self-efficacy dengan perencanaan karier peserta didik kelas XII SMA Negeri di Kecamatan Tarogong Kidul”, dengan sampel penelitian seba­nyak 283 sampel dapat dipaparkan beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Terdapat hubungan signifikan pelibatan orang tua dengan perencanaan karier di­buk­tikan dengan P value lebih kecil dari 0.05 dan koefisien korelasi sebesar 0.498 dengan keeratan hubungan sedang.

2. Terdapat hubungan signifikan self-efficacy dengan perencanaan karier dibuktikan dengan P value lebih kecil dari 0.05 dan koefisien korelasi sebesar 0.634 dengan keeratan hubungan yang kuat.

3. Terdapat hubungan signifikan pelibatan orang tua dan self-efficacy dengan perenca­­naan karier ditunjukkan P value lebih kecil dari 0.05 dan koefisien korelasi sebesar 0.644 dengan keeratan hubungan yang kuat.


Saran
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat pada pihak-pihak tertentu. Berdasarkan penelitian tentang hubungan pelibatan orang tua dan self-efficacy dengan perencanaan karier peserta didik kelas XII SMAN di Kecamatan Tarogong Kidul, maka rekomendasi diberikan pada pihak-pihak berikut:

1. Bagi Guru Bimbingan dan Konseling
Implementasi Bimbingan dan Konseling bidang karier di sekolah diorientasikan pada upaya memfasilitasi perkembangan potensi peserta didik. Berdasarkan hasil penelitian peserta didik kelas XII SMAN di Kecamatan Tarogong Kidul diketahui bahwa self-efficacy mendapatkan hubungan yang kuat daripada pelibatan orang tua. Oleh karena itu, guru BK diharapkan dapat memberikan layanan perencanaan individual atau layanan dasar sejak dini mungkin agar peserta didik mengalami keberhasilan dalam perencanaan karier. Program layanan BK yang dapat diberikan kepada peserta didik adalah mengenai kegiatan yang bertujuan meningkatkan self-efficacy dalam diri untuk menunjang keberhasilan karier.

2. Bagi peneliti lanjutan
Bagu peneliti selanjutnya, penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan informasi dan referensi tentang hubungan pelibatan orang tua dan self- efficacy karier dengan perencanaan karier. Penentuan jumlah sampel pada penelitian hubungan harap dijadikan pertimbangan karena pada penlitian ini menggunakan teknik proportionate random sampling dengan subjek diatas 250 yang dimaksudkan agar dapat me­namb­ah subjek dengan proporsi yang tepat.


DAFTAR PUSTAKA
Bandura, A., Evans, R. I., & Huberman, B. (1988). Albert Bandura. Na.
Diadha, R. (2015). Keterlibatan Orang Tua Dalam Pendidikan Anak Usia Dini Di Taman Kanak-Kanak. Edusentris, 2(1), 61–71.
Ghufron, M. N., & Risnawati, R. (2012). Teori-Teori Psikologi Cetakan III. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Gladding, S. T., & Batra, P. (2007). Counseling: A Comprehensive Profession. Pearson Education India.
Hurlock, E. B. (1990). Psikologi Perkembangan Edisi 5. Jakarta: Erlangga.
Kependidikan, K. P. D. K. D. J. G. Dan T. Panduan Operasional Penyelanggaraan Bimbingan Konseling Di SMA § (2016).
Lent, Robert W., et al. “Social Cognitive Career Theory.” Career Choice and Development, vol. 4, 2002, pp. 255–311.
Marini, C. K., & Hamidah, S. (2014). Pengaruh Self- Efficacy, Lingkungan Keluarga, Dan Lingkungan Sekolah Dengan Minat Berwi­rausaha Siswa SMK Jasa Boga. Jurnal Pendidikan Vokasi, 4(2).
Rachmawati, Y. E. (2012). Hubungan Antara Self Efficiacy Dengan Kematangan Karier Pada Mahasiswa Tingkat Awal Dan Tingkat Akhir Di Universitas Surabaya. Calyptra, 1(1), 1–25.
Robert L.Gibson Dan Mariane H. Mitchell. (2011). Bimbingan Dan Konseling. (Pustaka Pelajar, Ed.) (Edisi Indo). Yogyakarta: Pearson Prentice Hall.
Rustika, I. M. (2012). Efikasi Diri: Tinjauan Teori Albert Bandura. Buletin Psikologi, 20(1–2), 18–25.
Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D. (Alfabeta, Ed.) (Cetakan Ke). Bandung: Alfabeta.
Warsito, H. (2012). Hubungan Antara Self-Efficacy Dengan Penyesuaian Akademik Dan Prestasi Akademik (Studi Pada Mahasiswa FIP Universitas Negeri Surabaya). Pedagogi: Jurnal Ilmu Pendidikan, 9(1), 29–47.
Whiten, A., & Byrne, R. W. (1991). Natural Theories Of Mind: Evolution, Development And Simulation Of Everyday Mindreading. Basil Blackwell Oxford.
Yosef, Y. (2005). Pelibatan Orang Tua Dalam Pendidikan Sekolah Dasar. Edukatif, 2(1), 13–22.
Yusuf, S. (2011). Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja. PT Remaja Rosdakaryam.
Zafifatun Nisa, E. V. I., & Warsito Wiryosutomo, H. (2018). Pengembangan Aplikasi Karier Model Cognitive Information Processing (Cip) Untuk Perencanaan Studi Lanjut Siswa Kelas Ix Smp Negeri 1 Panceng Gresik. Jurnal Bk Unesa, 8(2)